Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

22 Maret 2009

Mau Telepon Allah

Di suatu sore yang rintik-rintik hujan… agak gelap memang sore itu… mentari tertutup kelamnya mendung….

"Yah,... aku pinjam HPnya ya? " seorang anak TK bernama Daffa merajuk kepada ayahnya
"Aku mau telephone Allah…." lanjut Daffa

Secepat kilat HP kesayangan ayahnya sudah pindah tangan.
Lalu tangan mungil daffa memejet tombol dengan manisnya…
"…dua… empat… empat … tiga … empat … Hallo…?"

"….Subuh… Dhuhur… Ashar… Maghrib… Isya...yah mas Daffa?" tanya si ayah menyelidik
Daffa mengangguk sambil terus ngobrol ngalor ngidul di HP

"Kalau nomor buat premium call ada mas?" tanya si ayah lagi

… Daffa meletakkan HP ayahnya lalu sembari mulut mungilnya dimonyong-monyongka n berucap manja…
"tambahin ajah ama 4 4 3 Yah…"

Wah nomor cantik tuh… 2 4 4 3 4 443

"… Subuh (2)… Dhuhur (4) … Ashar (4) … Maghrib (3) … Isya (4)... ditambahin Tahajud (4+4) dan Witir (3)… " pasti langsung di bales nih….!

"Si Daffa memang menggemaskan nih…." kata ayah dalam hati

Lalu si ayah cepat-cepat simpan nomor cantik tersebut 24434.443 di otak terdalamnya
Lalu segera berwudhu
Sambil tertunduk malu

Karena sang ayah ingat,akan masa depannya kelak ia akan di dalam keranda untuk di antarkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir..

20 Maret 2009

Seribu Dengan Seratus ribu

Rp.1000 VS Rp.100,000


Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda.

Keduanya sama-sama dicetak di PERURI
dengan bahan dan alat-alat yang oke.
Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik.. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang
seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampiiiuunnnn. ........... darimana saja kamu, kawan?
Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah
lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan...... bau! Padahal waktu kita
sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ..... Ada apa
denganmu?"

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :

"Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus.

Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam.

Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke 'baluang' (pren : tau kan baluang...?) Inang-inang.

Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ......."

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku.

Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya harum sekali.

Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil
mewah
, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di
tempat yang bagus.

Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan...... aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. " Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya : "Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.

Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!" "Apa itu?" uang seratus ribu penasaran. "Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana....."